| Gambar Utama |
Ponpes (pondok pesantren) di Purwosari, membuat pandanganku berbeda tentang islam dan membuat keyakinanku berubah menjadi Teis (sebuah keyakinan yang aku yakini bahwa tuhan Allah itu ada dan sangat nyata) tapi agama yang menyertainya tidak sebaik yang aku kira. Aku tidak pernah tahu itu tradisi atau apa tapi pertama aku kesana aku terlalu memandang baik sebuah ponpes yang aku kira tempat orang baik seperti pada bayanganku. Aku sengaja tidak memberi sebuah petunjuk tentang nama dari ponpes ini karena aku tidak ingin bersifat buruk seperti mereka dan aku tidak menjelekkan sebuah instansi atau apapun itu dengan postinganku, ini adalah apa yang aku rasakan.
Seperti seorang lelaki muslim yang polos aku selalu menganggap bahwa ponpes adalah sebuah tempat kumpulan orang baik pilihan yang mempelajari keilmuan islam secara mendalam dan termasuk didalamnya ilmu akhlak.
Pertama kali aku kesana sendalku hilang di hari pertama pendaftaran, aku anggap itu mungkin kesalahan kecil yang dikira orang lain adalah sendal teman mereka atau apalah. Orang tua ku membelikan sendal yang baru padaku dan tidak kurang dari seminggu sendalku kembali hilang. Dalam hatiku apakah ini sudah bisa disebut mencuri, karena mereka (entah siapa) telah memakai dalam hal ini juga mengambil barang milik orang lain. Aku belum dapat jawaban atas pertanyaan itu. Hingga kejadian ini terus berulang (aku lupa) untuk keberapa kalinya.
Kedua (ini pribadiku) aku kurang nyaman dengan adat yang memang terlalu memulyakan seorang yang dianggap sebagai guru besar (sekali lagi aku tidak ingin menyebut nama atau sebutan yang khas agar tidak terlihat aku seolah menjelekkan instansi terkait). Aku berbeda keyakinan terhadap hal tersebut karena mereka tidak memperbolehkan memandang guru besar tersebut ketika beliau berjalan sedangkan dalam pandanganku ketika aku mengagumi sebuah sosok maka aku ingin sekali memandangnya dengan penuh kecintaan (seperti keinginanku untuk memandang wajah Rasulullah Muhammad). Aku begitu ingin memandang baik wajah sosok yang kukagumi ilmunya, akhlaknya, bukan malah memalingkan wajahku darinya.
Ketiga yang membuatku benar-benar berhenti menganggap ini lelucon. Aku ada dalam sebuah kamar khusus berbahasa arab waktu itu, dan ketika itu aku sedang sakit dan pulang dengan ijin tentunya (melalui prosedur yang baik). Aku ingat didalam tas ku tersimpan sebuah makanan ringan yang belum terbuka samasekali dan itu kutinggalkan di kamar ponpes tersebut (aku lupa waktunya) mungkin 1-2 hari dan ketika aku kembali makanan itu telah hilang.
Maksudku begini tas itu kutinggalkan rapi didalam kamar tersebut dengan resleting tertutup rapat (aku sangat ingat), kenapa itu sampai bisa hilang. Aku tidak bisa menuduh teman sekamar ku karena memang tidak ada bukti, tapi siapa yang ada di kamar ini lebih lama dari penghuni kamar itu sendiri (maksudku selain penghuni kamar lain).
Jika bukan penghuni kamar sendiri maka mungkin saja penghuni kamar lain, dan aku terus mikir hingga aku sadar pada satu kesimpulan bahwa ini bukan lagi siapa yang mengambil tapi kesimpulannya jelas yang mengambil adalah seseorang dalam lingkup ponpes. Tidak mungkin aku mengambil kesimpulan yang irasional dengan menuduh sosok jin setan yang mengambil makananku kan. Sekalipun itu bisa dilakukan (mungkin) tapi aku tidak sampai pada titik kesimpulan serendah itu, sama saja itu seperti pemikiran rasional yang mentok gak dapat jawaban hingga akhirnya sosok diluar manusia lah yang jadi tumbal tuduhan.
Ini bukan masalah apa yang dicuri (nominal atau apapun) tapi tindakan yang dilakukan, oleh siapa dan dimana tempat tersebut terjadi, pencurian (sebut saja pengambilan agar tidak terlalu tegang) ini dilakukan oleh mereka yang ada di lingkungan ponpes, wilayah yang kuanggap sebagai tempat orang-orang baik.
Dari pengalaman ini aku mulai meragukan islam sebagai agama yang sempurna, aku tidak menghakimi bahwa islam agama yang buruk atau islam bukan agama yang benar tentu tidak seperti itu aku hanya mulai menganggap bahwa ternyata islam tidak sebaik ekspektasi terbaik ku terhadapnya selama ini.
Sebelum aku ke ponpes tersebut pandanganku terhadap islam sangat tinggi kemulyaan dan akhlaknya, ilmunya dan segala tentangnya, kebaikan akhlak perorangannya, tutur katanya, kesopanannya, dan ketika aku memasuki ponpes tersebut aku harus mulai mengoreksi ulang pandanganku terhadap keyakinan ini.
Dari sinilah aku mulai meragukan agama, adat dan kebiasaan sebuah agama tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya pada lingkungan manusianya. Analogi itu seperti sebuah buku pedoman hidup yang sangat luar biasa baik tersurat maupun tersirat dengan baik dan penuh kebijaksanaan tapi semuanya jadi percuma karena perilaku pelakunya tidak benar-benar mengikuti buku pedoman hidup tersebut.
Mungkin aku salah. Pertanyaannya adalah aku berada ditempat yang salah saat itu atau memang ajaran agama ini yang tidak sebaik yang aku bayangkan. Tentu aku tidak meragukan samasekali ilmu teman-teman disana tentang islam itu sangat luar biasa, aku hanya kecewa terhadap keadaan yang terjadi.
Ponpes tersebut telah mengubah sebuah pandangan seseorang (aku) yang begitu antusias terhadap islam menjadi memiliki keraguan terhadap ajaran tersebut, dan aku begitu sangat kecewa hingga detik dimana aku tulis ini aku masih mencari apa yang salah.
Aku mengimani Allah yang Maha Esa, dan mengagumi sosok termulya kekasih Allah yakni Rasulullah Muhammad. Semoga Allah mengampuni kesalahanku dan semoga Rasulullah memberiku jalan dan syafaat.
Aamiin.